CSS MoRA Universitas Airlangga tahun 2012
“Sebuah
kitab nahwu al-Imrithy dalam
pembukaannya yang menyebutkan bahwa Nahwu sebagai Bapak dari segala kitab dan
Shorrof adalah ibunya”
Pondok pesantren adalah suatu tempat komunitas
santri yang mendiami suatu tempat tertentu dengan mendalami ilmu agama secara
khusus dengan didampingi oleh para Masyayikh. Istilah pondok pesantren
telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. Pondok pesantren berasal dari
bahasa arab funduq yang berarti
tempat penginapan dan pesantren berasal dari bahasa Indonesia yang diberi pelesetan
oleh orang jawa, asal penyebutan pesantren yaitu dari kata dasar santri
yang diberi awalan Pe- dan diberi akhiran –an menjadi Pesantrian. Karena pondok
pesantren banyak ditemukan di pulau jawa, maka timbullah tradisi penyebutan
nama Pondok Pesantrian menjadi Pondok pesantren seperti yang telah kita kenal
sekarang ini. Suatu lembaga keilmuan belum bisa dikatakan pondok pesantren jika
belum memenuhi beberapa syarat sebagai berikut; pertama, adanya Kyai atau pengasuh. Kedua, adanya tempat untuk belajar
atau mengaji bisa termasuk masjid. Ketiga, adanya santri dan yang terakhir
adalah adanya tempat untuk bermalam untuk para santri. Komponen-komponen ini
sangat kompleks dalam pembentukan suatu bangunan yang layak disebut sebagai
Pondok Pesantren.
Di dalam pondok pesantren begitu banyak kajian
keilmuan yang dikaji dan ditela’ah serta dibedah susunan Nahwu dan Shorrofnya,
mengingat sebuah kitab nahwu al-Imrithy
dalam pembukaannya yang menyebutkan bahwa Nahwu sebagai Bapak dari segala kitab
dan Shorrof adalah ibunya. Begitu penting mengenal bapak dan ibu dari segala
ilmu kitab ini, banyak kitab-kitab yang menerangkan lebih detail lagi tentang dua
cabang ilmu ini. Tingkat kitab nahwu untuk pemula sekedar pengenal huruf-huruf
yang berhukum jer dan selebihnya terdapat dalam kitab Al-‘Awamil dilanjutkan
dengan nahwu wadi’, Al-Jurumiyah, Al-Imrithy, Alfiyah hingga tingkat tinggi
seperti Mughniy Al-Labib. Mempelajari kitab Shorrof mulai dari tingkat dasar Amsilah
at-tashrifiyah hingga ketingkat tinggi seperti Al-maqsudil Maufud.
Para kyai sangat beragam cabang ilmu yang di dalaminya.
Seperti para Ulama’ di Indonesia, KH. Hasyim Asyari pendiri Pondok pesantren
Tebu Ireng Jombang yang sekaligus pemerkasa Nahdlotul Ulama’ yang sudah tidak
asing di telinga kita, juga cucu emasnya yaitu pengasuh Pondok Pesantren Tebu
Ireng Jombang, KH. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur ini mempunyai
ilmu yang dalam dan daya ingat yang sangat kuat serta daya pikatnya dalam
memberikan wejangan yang renyah dengan bahasa yang santai dan mengena,
kadang dibumbuhi dengan guyonan-guyonan Gus Dur. Meninjau kota tapal
kuda juga terkenal dengan sebutan kota garam yang dihubungkan oleh
jembatan Suramadu yaitu Kyai Cholil Bangkalan yang terkenal dengan ilmu
tashawuf dan ilmu Ladduninya, sebuah Ilmu yang merupakan Ma’unah dari
Allah tanpa belajar dengan Ngoyo-ngoyo. Juga Kyai Muhammad As’ad Syamsul
Arifin pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo dan Kyai Hamid Pasuruan yang terkenal dengan Ilmu
Tashawufnya. Adapun KH. Sulahak Syarif, pengasuh pondok pesantren Kyai
Syarifuddin Lumajang yang terkenal dengan Ilmu Faroidnya dalam kitab
yang berjudul “Minhatul Mughits”
Sungguh besar pengaruh para Kyai dan segala
kajian Ilmunya dalam pengembangan Pondok Pesantren dan para santrinya sebagai
bekal untuk menjadi kader-kader pemerjuang agama Islam yang meluas di Indonesia
yang mulai dilanda perbedaan pendapat sehingga terkesan bersaing antara satu
pemahaman dengan pemahaman lain. Namun, dengan mengingat Sabda Rasulullah,
“Ikhtilafu ummatiy rohmatun” yaitu perbedaan di antara ummatku adalah rahmat.
Para pemegang pemahaman dapat hidup rukun menuju masyarakat yang madani.








0 komentar:
Posting Komentar