Rabu, 26 Desember 2012

Pondok Pesantren dan Kajian Keilmuannya


CSS MoRA Universitas Airlangga tahun 2012

            “Sebuah kitab  nahwu al-Imrithy dalam pembukaannya yang menyebutkan bahwa Nahwu sebagai Bapak dari segala kitab dan Shorrof adalah ibunya”


Pondok pesantren adalah suatu tempat komunitas santri yang mendiami suatu tempat tertentu dengan mendalami ilmu agama secara khusus dengan didampingi oleh para Masyayikh. Istilah pondok pesantren telah dikenal sejak beberapa abad yang lalu. Pondok pesantren berasal dari bahasa arab  funduq yang berarti tempat penginapan dan pesantren berasal dari bahasa Indonesia yang diberi pelesetan oleh orang jawa, asal penyebutan pesantren yaitu dari kata dasar santri yang diberi awalan Pe- dan diberi akhiran –an menjadi Pesantrian. Karena pondok pesantren banyak ditemukan di pulau jawa, maka timbullah tradisi penyebutan nama Pondok Pesantrian menjadi Pondok pesantren seperti yang telah kita kenal sekarang ini. Suatu lembaga keilmuan belum bisa dikatakan pondok pesantren jika belum memenuhi beberapa syarat sebagai berikut; pertama, adanya Kyai atau  pengasuh. Kedua, adanya tempat untuk belajar atau mengaji bisa termasuk masjid. Ketiga, adanya santri dan yang terakhir adalah adanya tempat untuk bermalam untuk para santri. Komponen-komponen ini sangat kompleks dalam pembentukan suatu bangunan yang layak disebut sebagai Pondok Pesantren.
Di dalam pondok pesantren begitu banyak kajian keilmuan yang dikaji dan ditela’ah serta dibedah susunan Nahwu dan Shorrofnya, mengingat sebuah kitab  nahwu al-Imrithy dalam pembukaannya yang menyebutkan bahwa Nahwu sebagai Bapak dari segala kitab dan Shorrof adalah ibunya. Begitu penting mengenal bapak dan ibu dari segala ilmu kitab ini, banyak kitab-kitab yang menerangkan lebih detail lagi tentang dua cabang ilmu ini. Tingkat kitab nahwu untuk pemula sekedar pengenal huruf-huruf yang berhukum jer dan selebihnya terdapat dalam kitab Al-‘Awamil dilanjutkan dengan nahwu wadi’, Al-Jurumiyah, Al-Imrithy, Alfiyah hingga tingkat tinggi seperti Mughniy Al-Labib. Mempelajari kitab Shorrof mulai dari tingkat dasar Amsilah at-tashrifiyah hingga ketingkat tinggi seperti Al-maqsudil Maufud.
Para kyai sangat beragam cabang ilmu yang di dalaminya. Seperti para Ulama’ di Indonesia, KH. Hasyim Asyari pendiri Pondok pesantren Tebu Ireng Jombang yang sekaligus pemerkasa Nahdlotul Ulama’ yang sudah tidak asing di telinga kita, juga cucu emasnya yaitu pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Abdur Rahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur ini mempunyai ilmu yang dalam dan daya ingat yang sangat kuat serta daya pikatnya dalam memberikan wejangan yang renyah dengan bahasa yang santai dan mengena, kadang dibumbuhi dengan guyonan-guyonan Gus Dur. Meninjau kota tapal kuda juga terkenal dengan sebutan kota garam yang dihubungkan oleh jembatan Suramadu yaitu Kyai Cholil Bangkalan yang terkenal dengan ilmu tashawuf dan ilmu Ladduninya, sebuah Ilmu yang merupakan Ma’unah dari Allah tanpa belajar dengan Ngoyo-ngoyo. Juga Kyai Muhammad As’ad Syamsul Arifin pendiri Pondok Pesantren Salafiyah Safi’iyah Sukorejo dan  Kyai Hamid Pasuruan yang terkenal dengan Ilmu Tashawufnya. Adapun KH. Sulahak Syarif, pengasuh pondok pesantren Kyai Syarifuddin Lumajang yang terkenal dengan Ilmu Faroidnya dalam kitab yang berjudul “Minhatul Mughits
Sungguh besar pengaruh para Kyai dan segala kajian Ilmunya dalam pengembangan Pondok Pesantren dan para santrinya sebagai bekal untuk menjadi kader-kader pemerjuang agama Islam yang meluas di Indonesia yang mulai dilanda perbedaan pendapat sehingga terkesan bersaing antara satu pemahaman dengan pemahaman lain. Namun, dengan mengingat Sabda Rasulullah, “Ikhtilafu ummatiy rohmatun” yaitu perbedaan di antara ummatku adalah rahmat. Para pemegang pemahaman dapat hidup rukun menuju masyarakat yang madani.

0 komentar: